BREAKING NEWS

Perempuan yang Membaca Sedang Membangun Dunia yang Berbeda.

 


Oleh : DEA AMELIA PUTRI

Hal-Sel, Bacanpost.com — Di tengah hiruk pikuk zaman yang serba cepat dan penuh kegaduhan, membaca sering kali dipandang sebagai aktivitas sederhana. Padahal, sejatinya membaca adalah bentuk perlawanan yang halus. Ia memberi jeda dalam hidup, menyusun ulang batin, sekaligus membentuk kesadaran baru. Dari ruang inilah lahir sosok perempuan pembaca — pribadi yang bukan sekadar membalik halaman, melainkan menata ulang dunia.


Perempuan yang membaca tidak sedang mengisi waktu kosong. Ia tengah membangun fondasi peradaban baru. Dari setiap kata yang diserapnya, tumbuh kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang mengikuti arus, tetapi juga tentang memahami arah dan memberi makna. Ia menenun dunianya sendiri, berdialog dengan pikirannya, serta menata ulang hubungannya dengan kehidupan dan manusia di sekitarnya.


Kesadaran seperti itu lahir melalui perjalanan intelektual. Perempuan pembaca menyadari perannya jauh melampaui batas tradisional. Ia paham bahwa cinta bukanlah kepemilikan, melainkan kebersamaan. Rumah tangga baginya bukan sekadar diam, tetapi dialog. Siapa pun yang bersanding dengan perempuan pembaca, tidak hanya bersatu dengan tubuh, melainkan juga dengan jiwa, akal, dan pandangan hidup yang terus berkembang.


Membaca menjadikan perempuan lebih lembut tanpa kehilangan ketegasan, lebih penuh kasih tanpa kehilangan keberanian. Ia mendidik anak-anaknya bukan hanya dengan makanan dan pakaian, tetapi juga dengan bahasa, imajinasi, dan keberanian untuk bermimpi. Dari buku, ia memperkenalkan dunia yang lebih luas daripada halaman rumah.



Namun, perempuan pembaca tidak berhenti di ruang domestik. Ia hadir di masyarakat sebagai suara yang sadar, tajam, dan berdaya. Membaca memberinya alat untuk menembus struktur sosial yang kerap membatasi. Ia tahu kapan harus menuntut, kapan harus melangkah, dan ke arah mana perubahan digerakkan. Di dunia kerja, ia lebih siap menghadapi tantangan, lebih mampu mengambil keputusan, dan lebih berani melahirkan solusi kreatif.


Perempuan yang membaca tidak tinggal diam di hadapan ketidakadilan. Suaranya bukan sekadar teriakan emosi, melainkan argumen yang terukur. Ia bergerak di isu pendidikan, kesehatan, politik, dan hak-hak sosial. Ia sadar, suara perempuan sama pentingnya dengan suara siapa pun.


Membaca, bagi perempuan, adalah jalan menuju transformasi. Dari pembaca ia menjadi penggerak, dari pemimpi ia menjadi pelaku. Ia menjembatani ide dan realitas, menghubungkan harapan dengan tindakan. Dengan demikian, ia tidak hanya membangun dirinya, tetapi juga lingkungannya.


Jika ada cahaya sejati di dunia ini, maka cahaya itu terpancar dari mata perempuan yang membaca dengan kesungguhan. Ia adalah lentera bagi masyarakat, sumber kekuatan bagi generasi, dan tanda bahwa masa depan bisa berbeda. Sebab ketika seorang perempuan membaca, ia tidak sekadar membuka halaman — ia sedang membuka jalan menuju dunia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermakna.



Tim Redaksi Bacanpost

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar