PANGKALAN BELA NEGARA ; SEBUAH LALULINTAS PEMIKIRAN KEBANGSAAN DI KOTA SARUMA.
Hal-sel, Bacanpost.com — "Sepanjang sejarah, musuh agama ialah 'taghut' yaitu sebuah sistem yang melawan kebenaran dan merusak kehidupan manusia, sebuah sistem yang menimbulkan perbudakan dan berbagai macam berhala. Siapakah pengikut taghut ini? Menurut Al-Qur'an, mereka adalah para aristokrat yang kaya, dan orang-orang serakah yang hidup dalam kemakmuran dan kemewahan, serta para penguasa yang tak punya rasa tanggung jawab.” (Ali Syariati)
Hampir sebulan rasanya saya sudah berada di kabupaten halmahera selatan, tepatnya di kota bacan yang dikenal dengan nama negri/kota saruma saat saya di minta untuk menjadi pengelolah dalam kegiatan intermediate Training (LK II) HMI Cabang Bacan. hampir sebulan itulah, saya yang merupakan berasal dari utara Halmahera punya kesempatan untuk berkeliaran menikmati kota saruma.
Dari sekian tempat yang telah saya ziarahi, pangkalan belah Negaralah yang sangat sering saya kunjungi. Karna selain dekat dari sekretariat HMI Cabang Bacan sebagai tempat menginap saya, tetapi juga di pangkalan bela Negara ada permainan domino dan catur yang bisa menjadi tempat hiburan untuk menenangkan akal dari lelahnya mendaki setiap problem yang telah saya hinggapi.
Tetapi tak hanya itu, Pangkalan Bela Negara juga menjadi tempat jedah para kalangan Pemuda dari berbagai latar belakang. Mulai dari Mahasiswa, jurnalis, pengusaha, pemerhati sosial, tukang ojek, politisi, birokrasi, hingga pengangguran. Sebagai tempat jedah dari sekian latar belakang itulah, banyak terjadi transaksi pikiran yang menghiasi keindahan wacana dari para penjedah. Refleksi, kritik, serta formula memecahkan masalah tersaji dalam ruang pertukaran ide.
Secara geografis pangkalan bela negara menjadi titik gerbang untuk memasuki istana kekuasaan yakni kantor pemerintahan Daerah kabupaten Halmahera Selatan. Pangkalan bela negara juga berhadapan dengan caffe Fatimah yang menjadi tempat para muda-mudi untuk persinghan diri mereka dari penatnya kota. Jadi dari aspek geografis jika kita aquivalenkan dari kualifikasi intelektual filsafat yunani klasik tepatnya di sokrates hingga plato, kita dapat memberikan predikat bagi Pangkalan bela negara sebagai Polis yang notabene sebagai representasi respublika dan di depannya sebagai nomos yang notabene representasi dari resprivata.
Dalam tradisi intelektual yunani para filsuf terutama Socrates dan plato sangat membedakan antara nomos sebagai resprivata dan polis sebagai respublika. Dimana respublika adalah fakultas yang di isi oleh para akademis (filsuf) untuk memformulasikan serta mengihtiartkan keadilan yang dapat di akses oleh semua orang tanpa terkecuali sementara resprivata sebaliknya dari itu semua. Kenapa demikian, sebab hal ini berangkat dari suatu pikiran skeptis Socrates serta plato yang mengkiritisi Demokrasi sebagai sistem yang dapat dihuni oleh para "ideolog" Ala rocky Gerung yang justru menghancurkan harapan keadilan dalam polis.
Jadi Pangkalan bela Negara yang merupakan teks polis juga terisi oleh orang-orang akademis, walaupun sangat berbedah kualifikasi yang didiksikan oleh plato. Tetapi setidaknya para penjedah di pangkalan bela negara punya kerangka berfikir tentang yang polis harus seperti apa untuk dapat mengakuisi keadilan sebagai frasa utama dalam penyelenggaraannya kebijakan. Secara cepat-cepat saya mengasosiasikan penjedah di pangkalan Bela Negara mempunyai akar paradigmanya adalah "Intelektual-politis".
Intelektual-politis merupakan perkawinan silang pemikiran dari Hannah Arendt, Claude Lefort, Machiavelli, ibnu kaldun, dan pemikir isalam moderat lainnya. serta kehangatan pikiran yang dimiliki oleh Socrates, plato, Aristoteles, cicero dan Karl Marx. Juga artefak pemikiran yang ditinggalkan oleh para pendiri bangsa, Bung Karno, Moh. Hatta, Kh. Agus Salim Dll. Dimana intelektual-politis mengisaratkan bahwa " Yang politik" Bukanlah priteks yang berkonotasi negatif melainkan "yang politik" Sebuah keharusan Diskursus alamiah yang koheren dari penjelmaan manusia sebagai zoon politikon, artinya "yang politik" adalah keutamaan untuk menghendaki keadilan.
Intelektual-politis juga menitik beratkan politik sebagai arena pendistribusian keadilan yang berbasiskan pada kemanfaatan publik secara menyeluruh, serta intelektual-politik ingin memagari ruang demokrasi sebagai kediam permanen secara parsial oleh kelompok tertentu, tetapi demokrasi adalah ruang kosong yang dapat di isi oleh kelompok apapun dan dari latar belakang apapun dengan basisnya adalah intelektualitas. Walaupun demikian, Intelektual-politis menghendaki nasionalisme sebagai payung utama politik kebangsaan untuk menghendaki keadilan warga negara serta kebangsaan sebagai integrasi dari politik.
Oleh karenanya, Diskursus lalulintas Pemikiran pangkalan bela negara filosifi politik kekuasaan harusnya menjadi jalan lintas pikiran yang menghadirkan kebahagiaan tidak secara tari-tarian maupun libertarianisme, melainkan kebahagian yang dapat di akaes oleh semua orang secara bersama-sama dengan penuh kebebasan yang ber-etika secara humanisme relijius. Ibarat senja yang menebarkan keindahan jingga meronanya, hingga mampu menjadi teks puisi nan indah bagi para mereka yang patah hati maupun yang sedang jatuh cinta.
Jadi, Pangkalan Bela Negara tidak sekedar tempat tongkrongan pelarian dari penatnya kota, melainkan pangkalan bela negara adalah manifestasi ruang ide yang berupaya memformulasikan keadilan, kebahagian, dan kemaslahatan untuk tiba pada setiap sudut-sudut saruma yang tidak terjangkau dari lensa kekuasaan serta anak muda hedonis serta apatis.
Tim Redaksi Bacanpost.
